Minggu, 02 Desember 2012

China Luncurkan Satelit Pengintai Kapal Laut


detail berita
Satelit Yaogan 16 Diluncurkan (Foto: Space)
BEIJING - China baru-baru ini meluncurkan roket Long March ke luar angkasa. Roket ini kemudian mengorbitkan satelit observasi Yaogan untuk misi pengintaian angkatan laut.

Dilansir Space, Selasa (27/11/2012), roket Long March 4C melesat ke angkasa pada 0406 GMT Minggu (25/11) atau 11:06 p.m. EST (Sabtu). Roket ini diterbangkan dari basis peluncuran Jiuquan di barat laut China.

Menurut pelacakan data militer Amerika Serikat, roket tiga tingkat ini menempatkan Yaogan 16 ke dalam orbit luar angkasa setinggi 680 mil dengan kemiringan 63,4 derajat. Roket tersebut diluncukan pada 12:06 p.m (25/11), waktu setempat.

Menurut media Xinhua, satelit ini dirancang oleh China Aerospace Science and Technology Corp, yang merupakan kontraktor bidang luar angkasa milik negara. Xinhua juga melaporkan, Yaogan 16 didesain untuk bermacam penggunaan, seperti percobaan teknologi, mensurvei sumber daya lahan, estimasi produksi pertainan serta pencegahan bencana.

Misi satelit ini menandakan peluncuran luar angkasa ke-17 yang dilakukan China tahun ini. Kabarnya, satelit ini akan menelusuri pergerakan kapal laut dengan teknologi optik dan instrumen observasi radar.

Peluncuran satelit Yaogan 16 dan orbitnya ini menunjukkan kesamaan dengan misi satelit sebelumnya, yang dilakukan Maret 2010. Satelit ini terdiri dari tiga pesawat luar angkasa yang melayang dalam formasi yang berdekatan.

Satelit observasi angkatan laut China ini merupakan mitra untuk Naval Ocean Surveillance System (NOSS) milik National Reconnaissance Office, Amerika Serikat. Satelit ini dijalankan oleh militer China.

Selama 25 Hari, Ilmuwan Observasi Gerak Rotasi Matahari


detail berita
(Foto: Redorbit)
CALIFORNIA - International Space Station (ISS) akan mengarahkan instrumen SOLAR pekan ini menuju matahari guna mendapatkan pemandangan terbaik. Instrumen ini digunakan oleh ilmuwan untuk mengamati gerak rotasi matahari selama 25 hari.

Dilansir Redorbit, Kamis (29/11/2012), instrumen SOLAR milik European Space Agency pertama kali di pasang pada modul laboratorium Columbus ESA pada Februari 2008. Mereka akan merayakan instrumen SOLAR ini yang menginjak tahun kelima mulai tahun depan.

"Ini cukup sebagai prestasi. Instrumen ini dirancang untuk bekerja hanya 18 bulan," ujar Nadia This, Operations Engineer di Belgian User Support and Operations Centre.

Instrumen SOLAR memerlukan posisi yang tepat, yakni mengarahkan posisinya agar dapat melihat langsung matahari. "Kami ingin merekam rotasi penuh matahari, yang akan memakan waktu sekitar 25 hari," tuturnya.

Untuk mendukung observasi ini, ISS atau stasiun luar angkasa internasional akan menggerakan orbitnya. ISS akan melibatkan banyak faktor, selain melakukan penghitungan orbit secara benar.

ESA juga mengatakan, komunikasi antena memerlukan orientasi kembali untuk tetap terhubung dengan Bumi dan percobaan ilmiah lainnya. Lima partner stasiun luar angkasa akan dilibatkan dalam diskusi tingkat tinggi guna mendapatkan dukungan untuk posisi orbit.

SOLAR pertama akan merekam rotasi penuh matahari pada 19 November 2012. Sementara, pada 1 Desember 2012, stasiun akan menghabiskan dua jam dan berputar 7 derajat untuk melanjutkan obsevasi.

"Observasi SOLAR meningkatkan pemahaman kami terkait matahari. Selain itu, memungkinkan bagi ilmuwan untuk menciptakan model akurasi komputer serta memprediksi perilaku yang ada di dalamnya. Semakin banyak data akurasi yang kami peroleh, semakin banyak yang bisa kami mengerti tentang bintang terdekat yang mempengaruhi bumi," jelasnya.

Bukti Baru Tolak Teori Keruntuhan Suku Maya



detail berita
Mural suku Maya (foto: Art Daily)
GUATEMALA - Sebuah mural emboss (timbul) yang memiliki berbagai warna dan beberapa fragmen semen milik dinasti suku Maya paling kuno di Dzibanche, Quintana Roo telah ditemukan. Mural itu merupakan bukti baru dalam misteri yang melingkupi suku tersebut.

Dilansir dari Art Daily, Rabu (21/11/2012), bukti tersebut mengindikasikan bahwa tempat itu masih dihuni suku Maya sampai abad ke-13. Rentang waktu tersebut lebih lama jika dibandingkan dengan teori keruntuhan suku Maya yang meyakini bahwa metropolis di sana ditinggalkan sama sekali pada abad ke-11.

Penemuan ini dicapai beberapa bulan lalu, setelah para ahli membuka kembali investigasi Enrique Nalda (1936 - 2010) terhadap metropolis suku Maya. Pada penjelajahan terakhirnya, Nalda menemukan sisa manusia dan beberapa benda yang digunakan untuk persembahan.

Arkeolog Sandra Balazario, bertanggung jawab atas proyek investigasi di Dzibanche, melaporkan penemuan itu sebagai indikator bahwa kota tersebut tetap dihuni sampai periode Pasca Klasik Akhir (1200 - 1550 masehi). "Ini relevan karena investigasi kami sebelumya menunjuk ke sebuah pemukiman di periode Klasik Akhir (800 - 1000 masehi).

Di antara objek yang ditemukan terdapat sebuah kuali tanah liat dari masa Klasik Akhir. Kuali tanah liat tersebut telah rusak saat ritual masa pra hispanik dan disimpan sebagai persembahan. Dekorasi pada kuali tanah liat itu menampilkan salah satu dari Testigo Cielo bersaudara, salah satu pemimpin terpenting dari dinasti Kaan.

Kuali tanah liat tersebut beserta ikonografi mural dan dekorasi semen yang ditemukan berhubungan dengan dinasti Kaan, mengindikasikan kelanjutan keturunan di metropolis suku Maya itu.

"Ini relevan karena sebelumnya informasi yang kami miliki adalah dinasti Kaan menghuni Dzibanche di periode Klasik. Lalu pada periode Klasik AKhir, mereka bermigrasi ke Calakmulk. Namun, setelah penemuan ini, kami mengetahui bahwa ada keluarga Kaan yang berlanjut menetap di Dzibanche untuk mengendalikan kota itu," terang Balanzario.

Tengkorak di Gua Ungkap Rahasia Mediterania


detail berita
Lokasi Peta Situs Palaeolitik dan Mesolitik di Pulau Egadi dan Sisilia (Foto: Sciencedaily)
ROMA - Sisa-sisa fosil tengkorak di gua Favignana, Italia, mengungkap bahwa manusia modern pertama menetap di wilayah Sisilia. Manusia modern pertama ini berada di zaman es terakhir, yakni sekira 19 ribu - 26,5 ribu tahun lalu.

Dilansir Sciencedaily, Kamis (29/11/2012), berdasarkan analisis genetik dari tulang yang ditemukan dalam gua pada pulau Egadi, menunjukkan beberapa data DNA mitochondrial pertama untuk manusia pertama dari wilayah Mediterania. Penelitian ini dilakukan oleh Marcello Mannino dan timnya dari Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology, Jerman.

Dengan analisis genetik tersebut, para peneliti mengungkap waktu ketika manusia modern ini berhasil mencapai pulau Egadi. "Penempatan penduduk Sisilia oleh manusia modern hanya terjadi pada puncak zaman es terakhir. Puncak zaman es terakhir ini sekira 19 ribu sampai 26,5 ribu tahun lalu, ketika permukaan air laut cukup rendah untuk mendukung sebuah jembatan tanah antara pulau serta semenanjung Italia," jelas Marcello.

Peneliti yang melaporkan hasil penelitiannya pada jurnal PLOS ONE ini juga menganalisis komposisi kimia dari sisa-sisa tulang manusia. Mereka menemukan bahwa manusia modern pertama ini memiliki gaya hidup berburu dan berkumpul.

Selain itu, manusia modern ini juga bergantung pada hewan darat ketimbang sumber pangan dari laut. Menurut penelitian, mereka tinggal di pulau ketika permukaan air laut meningkat. Ini menunjukkan bahwa dahulu mereka juga menggunakan sedikit sumber laut yang tersedia untuk mendukung kelangsungan hidup.

"Temuan ini memiliki implikasi penting untuk studi tentang peran laut dalam diet manusia modern Mediterania pengumpul dan pemburu," pungkasnya.

Ini Bentuk Fosil Manusia Purba Berusia 12.000 Tahun



detail berita
Fosil Manusia Purba Berusia 12.000 Tahun (Foto: Vietnamnet)
HANOI - Arkeolog dari Vietnam Institute of Archaeology menemukan fosil manusia purba berusia 12.000 tahun. Fosil manusia primitif ini ditemukan di gua Phia Vai di wilayah Na Hang, provinsi Tuyen Quang, Vietnam.

Dilansir Vietnamnet, Senin (26/11/2012), arkeolog Trinh Nang Chung mengatakan, gua Phia Vai di desa Coc Ngan, distrik Na Hang merupakan basis legenda "hantu gunung" Phia Vai. Masyarakat adat setempat mengungkapkan, gua suci ini memiliki hantu.

Di gua tersebut, konon pernah ada penduduk yang tersesat dan kemudian mengidap penyakit jiwa. Karena ini merupakan legenda, sehingga masyarakat setempat menganggap gua ini sebagai tempat suci dan tidak bisa diganggu.

Kabarnya, para arkeolog memerlukan waktu lama untuk meyakinkan pihak berwenang di wilayah setempat, untuk dapat masuk ke dalam gua. Arkeolog sempat menyediakan beberapa sesembahan serta mengundang paranormal guna melancarkan ritual dan melangsungkan pekerjaan penggalian situs arkeologi di wilayah tersebut.

Gua Phia Vai memiliki lebar 35 meter, serta tinggi empat meter. Tim arkeolog menggali gua tersebut dengan kedalaman lebih dari 50 centimeter dan menemukan beberapa potong tulang. Tulang ini mirip tulang ayam dan babi.

Arkeolog kemudian menggali dua lubang besar dengan luas 40 meter persegi. Tim menemukan ratusan artefak. Beberapa artefak yang paling berharga ialah, berusia lebih dari 10 ribu tahun.

Tim juga menemukan fosil tengkorak manusia purba dalam posisi berbaring. Fosil ini diyakini berusia 12 ribu tahun dan menunjukkan masa kejayaan budaya Hoa Binh. Arkeolog juga menemukan batu besar yang diyakini digunakan sebagai kursi oleh manusia primitif tersebut.

Arkeolog Temukan Kapal Kuno Abad 19



detail berita
ilustrasi (foto: Glasswings)
WASHINGTON - Para arkeolog dari University of Rhode Island, Israel Antiquities Authority dan University of Louisville telah menemukan sisa-sisa sebuah kapal dan pelabuhan dari masa awal abad ke-19. Penemuan tersebut terletak di kota Akko, kawasan timur Mediterania.

Dilansir dari Science Daily, Jumat (30/11/2012), penemuan tersebut dipresentasikan oleh Bridget Buxton dan William Krieger, beberapa waktu lalu di pertemuan tahunan American School of Oriental Research.

Israel Antiquities Authority telah menginvestigasi salah satu dari empat kapal karam yang ditemukan. Ukurannya sepanjang 32 meter dan masih memiliki banyak artifak-artifak kecil, seperti piring, wadah lilin, bahkan panci masak berisi tulang. Hasil analisis laboratorium menunjukkan bahwa kapal tersebut datang dari Turki.

Para arkeolog meyakini bahwa kapal tersebut milik prajurit Mesir di bawah pimpinan Admiral Osman Nurredin Bey. Kapal di bawah pimpinannya itu mengalami kerusakan ketika berusaha mencaplok kota Akko.

"Kami mendapatkan fragmen sejarah di area ini pada masa Hellenistik dan sekarang kami menemukan sesuatu yagn sangat penting  mengenai pelabuhan kuno. Kapal karam kuno merupakan bagian lain dari teka-teki yang akan membantu kami menulis ulang sejarah wilayah ini," ujar Buxton.

"Sama seperti dengan para arkeolog bawah air lainnya, saya sangat tertarik untuk menemukan contoh kapal perang multideck kuno yang terawetkan dengan baik. Walau bagaimanapun, kapal ini merupakan teknologi yang sangat hebat, tapi kami belum tahu banyak mengenai desainnya," imbuhnya

Suku Maya Masak Gunakan Bola Tanah


detail berita

GUATEMALA - Para arkeolog yang menggali sisa-sisa sebuah dapur kuno di Escalera al Cielo di Yucatan menemukan fosil bola tanah. Di masa lalu, suku Maya menggunakan bola ta[nah tersebut untuk memasak makanan.

Dilansir dari NBC News, Sabtu (1/12/2012), bola tanah itu memiliki diameter sekira satu sampai dua inci dan berusia lebih dari 1.000 tahun. Bola-bola tanah tersebut mengandung sisa-sisa jagung, kacang, labu dan berbagai tanaman umbi lainnya.

Arkeolog Stephanie Simms dan Francesco Berna dari Boston University, beserta George Bey dari Millsaps College mengatakan, penemuan ini mendukung hipotesis bahwa bola-bola tanah tersebut terlibat dalam aktivitas pemrosesan makanan di dapur.

"Ini pertama kalinya bola tanah liat yang dibakar dipelajari di wilayah Suku Maya, sepengetahuan saya, belum ada seorang pun yang mendokumentasikan penggunaan bola tanah liat dalam cara memasak Suku Maya modern," ujar Simms kepada Discovery News.

Bola tanah liat tersebut digunakan dengan cara dibakar pada api bersuhu rendah dan berulang kali digunakan di dapur. Kemungkinan, bola-bola tersebut diletakkan langsung ke dalam panci makanan untuk memasak atau memanaskannya, selain itu juga digunakan dalam alat memasak serupa oven.

"Kami mengetahui banyak hal mengenai sifat raja dan ratu Suku Maya kuno, namun penelitian jenis ini akan membantu melihat bagaimana cara Suku Maya bekerja di dapur, alat apa yang mereka gunakan dan cara mereka menyiapkan makanannya," papar co-director penelisitan tersebut bersama dengan arkeolog Tomas Gallareta Negron dan antroppolog William Ringle.