Selasa, 04 Desember 2012

Israel Tangkap 55 Warga Palestina di Tepi Barat

Foto: Orange
Foto: Orange
RAMALLAH – Berakhirnya konflik di Gaza, Israel pun mengalihkan perhatiannya ke wilayah Tepi Barat, Palestina. Tentara Israel mengumumkan pihaknya melakukan penangkapan terhadap 55 warga Palestina yang mereka anggap sebagai anggota kelompok militan.

Penangkapan tersebut dilakukan menyusul aksi teror bom yang menghantam satu bis di Israel dan melukai 15 penumpangnya pada Rabu 21 November kemarin. Pihak Israel menduga aksi tersebut dilakukan oleh kelompok militan yang berasal dari tepi barat.

"Warga yang kami tahan merupakan anggota faksi-faksi militan, termasuk didalamnya tokoh senior faksi militan tersebut. Kami tidak akan pernah membiarkan aksi teror dilakukan ke wilayah Israel,"pernyataan pihak Israel, seperti dikutip Reuters, Kamis (22/11/2012).

Tepi Barat dikuasai oleh otoritas Palestina yang dipimpin oleh Presiden Mahmoud Abbas dari faksi Fatah. Namun banyak warganya yang bersimpati dengan perjuangan yang dilakukan Hamas melawan Israel di Jalur Gaza,

Sebelumnya, dua warga Palestina di tepi Barat ditembak hingga tewas oleh tentara Israel ketika mereka mengikuti aksi demonstrasi yang memprotes serangan udara Israel ke Jalur Gaza.

Israel melakukan serang ke Jalur Gaza mulai pekan lalu, sebagai balasan atas serangan roket Hamas dari Jalur Gaza yang seringkali mengenai wilayah Israel. Serangan tersebut dihentikan hari ini dengan tercapainya kesepakatan gencatan senjata antara Israel dengan Hamas.

Israel Sukses Uji Coba Sistem Pertahanan Rudal Baru

Sistem pertahanan rudal Iron Dome (Foto: AP)
Sistem pertahanan rudal Iron Dome (Foto: AP)
TEL AVIV - Setelah puas dengan kinerja sistem pertahanan rudal Iron Dome (Kubah Besi) menangkal roket-roket dari Hamas, Israel kembali mengembangkan sistem pertahanan rudal baru yang dinamakan David’s Sling (Ketapel Daud). Uji coba ini berlangsung dengan sukses.

Sistem pertahanan rudal itu berhasil menangkal rudal yang ditembakkan militer Israel dari wilayah selatan negara tersebut. “Kesuksesan ini adalah langkah maju untuk menyempurnakan sistem pertahanan rudal Israel," jelas pihak militer Israel, sperti dikutip Associated Press, Senin (26/11/2012).

Jika Iron Dome bertujuan untuk menangkal roket-roket berjarak pendek, David’s Sling dirancang untuk menahan roket-roket dengan jarak jangkauan menengah. Israel juga memiliki sistem pertahanan rudal untuk roket-roket jarak jauh yang diberi nama The Arrow (Panah).

Israel mengembangkan sistem pertahanan rudal untuk menghadapi ancaman serangan roket dari pihak-pihak yang memusuhinya, khususnya Hamas dan Hizbullah yang memiliki roket-roket jarak pendek dan menengah dalam jumlah yang banyak. Israel juga mengkhawatirkan serangan roket jarak jauh dari Iran.

Sama seperti Iron Dome, David’s Sling juga dikembangkan oleh perusahaan militer Israel, Rafael, dengan kerja sama dari perusahaan militer Amerika Serikat (AS), Raytheon. Pengembangan Iron Dome diketahui dibantu biayanya oleh pemerintah AS.

Selain digunakan untuk mepertahankan negaranya, pihak Israel juga berusaha menjual sistem pertahanan rudal yang dimilikinya ke negara lain. Media Israel melaporkan Korea Selatan (Korsel) tertarik untuk membeli sistem pertahanan Iron Dome.

Militer Israel Terkena Peluru Nyasar Suriah

Pasukan Israel di atas tank (Foto: AP)
Pasukan Israel di atas tank (Foto: AP)
TEL AVIV - Sebuah peluru yang dilesakan oleh pihak militer Suriah, tidak disangka justru mengenai pasukan perbatasan militer Israel. Tidak ada korban ataupun kerusakan yang dilaporkan, atas peluru yang mengenai kendaraan militer Israel tersebut.

Atas insiden ini pihak Militer Israel langsung melayangkan protes kepada pihak pengawas Perserikatan Bangsa-Bangsa. Di sekitar lokasi kejadian diketahui ada pasukan perdamaian PBB yang ditempatkan untuk mengawasi genjatan ISrael-Suriah sejak 1970 silam.

"Tembakan telah mengenai kendaraan patroli di sepanjang perbatasan. Tetapi tidak ada korban dan kerusakan. Protes telah dilayangkan kepada pihak PBB yang saat ini telah melakukan penyelidikan," ujar juru bicara militer Israel, seperti dikutip Jerussalem Post, Senin (26/11/2012).

Pihak militer memastikan peluru tersebut memang berasal dari wilayah tetangga yang tengah dilanda pertempuran. Insiden peluru nyasar ini merupakan kejadian terbaru yang berlangsung selama peperangan terjadi di Suriah. Kejadian serupa juga dialami oleh negara-negara lain berbatasan langsung dengan Suriah, seperti Lebanon dan Turki.

Secara teknis, Suriah dan Israel masih dalam kondisi perang. Tetapi Dataran tinggi Golan, yang merupakan wilayah strategis yang memisahkan kedua negara, hingga kini masih dalam keadaan tenang.

Menhan Israel Putuskan Mundur dari Politik

Menhan Israel Ehud Barak (Foto: AP)
Menhan Israel Ehud Barak (Foto: AP)
TEL AVIV - Menteri Pertahanan Israel Ehud Barak mengeluarkan pengumumkan mengejutkan, yang menyebutkan dirinya mundur dari dunia perpolitikan Negeri Yahudi itu. Keputusannya ini diperkirakan bisa mengguncang sistem politik di Israel menjelang pemilihan umum.

Mantan jenderal yang sempat pula menjadi Perdana Menteri Israel itu mengatakan, dirinya akan tetap memegang jabatan Menhan Israel hingga pemerintahan baru terbentuk pada 22 Januari mendatang.

"Saya tidak mengambil keputusan ini tanpa perhitungan. Ini sudah saya pikirkan matang-matang," ujar Barak, seperti dikutip Associated Press, Senin (26/11/2012).

Pengunduran diri Barak bisa menjadi hilangnya tokoh yang menjadi mediator dari pemerintahan keras dari Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. PM Netanyahu diperkirakan akan tetap mencoba meraih kepemimpinan di Israel untuk periode keduanya.

Barak yang memegang faksi kecil di parlemen, seringkali bertindak sebagai utusan tidak resmi untuk Amerika Serikat (AS) guna memuluskan hubungan antara Pemerintahan Presiden Barack Obama dan PM Netanyahu, yang seringkali dilanda ketegangan. Politisi berusia 70 tahun itu memutuskan untuk mendur setelah Independence Party yang dipimpinnya, meraih momentum positif usai seragan militer Israel ke Gaza pekan lalu.

"Saya terlalu letih dengan kegiatan politik saat, yang tidak pernah menjadi sebuah hasrat besar. Masih banyak cara lain bagi saya untuk mengabdi kepada negara, bukan hanya politik," lanjutnya.

Barak dan Netanyahu dikenal dekat selama empat tahun terakhir. Tetapi keduanya sepertinya beda pendapat mengenai rencana seranga militer Israel terhadap fasilitas nuklir Iran. Rencana itu, amat ditentang oleh AS, yang meyakini masalah Iran masih bisa diatasi dengan jalan diplomasi

Pemilu


Tzipi Livni (Foto: Reuters)

TEL AVIV - Mantan Menteri Luar Negeri Israel Tzipi Livni, mengumumkan dirinya kembali ke dunia politik untuk bersaing dengan Perdana Menteri Benyamin Netanyahu memperebutkan posisi tertinggi dalam pemerintahan Negara yahudi tersebut. Livni dikenal sebagai tokoh politik dari Partai Kadima.

Sebelumnya Livni mundur dari politik pada awal tahun lalu setelah gagal mempertahankan posisi pimpinan di partainya. Livni kembali ke politik dengan mendirikan partai baru yang diberi nama “The Movement”.

Livni merupakan tokoh Israel yang memiliki reputasi cukup baik di dunia Internasional. Ia dikenal sebagai pendukung dari konsep dua negara untuk menghentikan konflik yang terjadi antara Israel dan Palestina.

Namun reputasinya tercoreng dengan keterlibatannya dalam serangan Israel ke Gaza pada tahun 2009 lalu yang menimbulkan banyak korban jiwa di pihak Gaza. Pengadilan Inggris bahkan sempat memerintahkan penangkapannya karena dituduh melakukan kejahatan perang dalam serangan tersebut.

“Saat ini semuanya terbalik, Israel bernegosiasi dengan pihak yang ingin menghancurkan Israel (Hamas). Namun menuda perundingan dengan pihak yang ingin berkompromi (Fatah). Saya kembali untuk memperjuangkan perdamaian antara Israel dengan Palestina,” Ujar Livni, seperti dikutip Associated Press, Rabu (28/11/2012).

Selama pemerintahannya Perdana Menteri Netanyahu gagal untuk meneruskan proses perundingan dengan otoritas Palestina yang dimpimpin oleh Mahmoud Abbas yang berasal dari kelompok Fatah. Kebuntuan negosiasi tersebut membuat Abbas memilih untuk membawa masalah Palestina ke forum internasional dengan mendaftar menjadi anggota pengamat Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) Kamis 29 November.

Pemilu Israel dijadwalkan akan berlangsung pada Januari mendatang. PM Netanyahu masih dianggap sebagai kandidat kuat Perdana Menteri Israel.

Warga Israel Nilai Serangan ke Gaza Gagal Total

Warga Gaza yang berlindung serangan Israel (Foto: Reuters)

TEL AVIV – Sekitar dua per tiga warga Israel merasa kondisi keamanan Israel tidak akan membaik setelah pemerintahnya melakukan serangan ke Jalur Gaza pada November lalu. Pemerintah Israel mengklaim serangan ke Gaza bertujuan untuk mencegah serangan roket Hamas yang seringkali mengancam wilayahnya.

Hal itu terungkap dalam jajak pendapat yang dilakukan Universitas Maryland di Israel. Dalam jajak pendapat itu, jumlah warga Israel yang menyatakan kondisi keamanan membaik setelah negaranya menyerang Gaza hanya mencapai 36 persen.

Sementara 38 persen warga Israel lainnya menyatakan, kondisi keamanan tidak mengalami perubahan. Sedangkan 21 persen warga Israel justru menganggap kondisi negaranya menjadi lebih buruk setelah serangan. Selain itu, jajak pendapa menunjukkan hanya 40 persen warga Israel yang merasa negaranya memenangkan konflik di Gaza pada bulan lalu itu.

“Kebanyakan warga Israel tidak merasa mereka meraih kemenangan dalam konflik tersebut,” ujar periset dalam jajak pendapat Shibley Telhami, seperti dikutip World Public Opinion, Jumat (30/11/2012).

Telhami juga mengungkapkan popularitas Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama, meningkat di mata warga Israel. Obama saat ini menjadi pemimpin dunia yang paling disukai oleh warga Israel. Sekitar 60 persen warga Israel menyatakan mereka menyukai Obama.

Hal tersebut cukup mengejutkan karena hubungan Obama dengan Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu, bisa dibilang tidak terlalu baik. Pada masa pemilihan presiden AS yang lalu bahkan Netanyahu secara terang-terangan memberikan dukungannya pada rival Obama, Mitt Romney.

Jajak pendapat itu juga menemukan setengah dari warga Israel tidak setuju jika negaranya melakukan serangan ke Iran dan hanya 18 persen responden yang setuju Israel menyerang Iran tanpa mendapat bantuan dari AS. Walaupun begitu, kebanyakan warga negara Zionis tersebut percaya saat ini Iran sedang mengembangkan nuklirnya untuk dibuat menjadi senjata.

AS Kritik Pembangunan Pemukiman Israel

Pemukiman warga Israel di Yerusalem Timur (Foto: AP)
Pemukiman warga Israel di Yerusalem Timur (Foto: AP)
WASHINGTON – Amerika Serikat (AS) mengkritik tindakan Israel yang ingin membangun sekitar 3.000 pemukiman Yahudi di wilayah Tepi Barat. Israel melakukan hal itu sebagai balasan atas keberhasilan Palestina meraih status negara pemantau non-anggota di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

“Tindakan Israel tersebut akan membuat kelanjutan negosiasi damai menjadi sulit,” ujar Menteri Luar Negeri AS, Hillary Clinton, seperti dikutip BBC, Sabtu (1/12/2012).

Sebelumnya, pihak Gedung Putih menyebut rencana pembangunan tersebut kontra produktif terhadap upaya perdamaian antara kedua belah pihak yang bertikai itu. Tentunya ulah Israel itu mempersulit usaha AS untuk membawa Israel dan Palestina kembali ke meja perundingan.

AS menyatakan, satu-satunya cara agar perdamaian dapat tercapai adalah dengan melakukan negosiasi langsung. Selama pemerintahan Perdana Menteri Benyamin Netanyahu di Israel, upaya negosiasi damai antara kedua belah pihak selalu mencapai jalan buntu.

“Warga Palestina harus diyakinkan bahwa perundingan damai adalah satu-satunya jalan untuk menyelesaikan konflik. Israel harus bersikap baik di wilayah Tepi Barat untuk dapat meyakinkan pihak Palestina untuk mau berunding,” jelas Clinton.

Sebelumnya AS juga mengkritik pihak Palestina yang berusaha mencari status keanggotaan di PBB. AS menolak keinginan Palestina itu karena dianggap akan menyulitkan renacan perundingan damai di waktu yang akan datang. Israel sendiri menganggap tindakan Palestina di PBB itu merusak upaya perdamaian antara kedua belah pihak.

Pihak Palestina mengecam rencana Israel, karena lokasi dimana pemukiman itu mau dibangun akan membelah wilayah Tepi Barat menjadi dua. Palestina menuduh Israel berusaha untuk menghambat berdirinya negara Palestina dengan cara memecah-mecah wilayah Palestina di Tepi Barat.

Saat ini ada sekitar 500 ribu warga Israel yang tinggal di pemukiman di wilayah Tepi Barat. Sebenarnya pembangunan pemukiman yang dilakukan Israel itu melanggar hukum internasional, namun tidak ada pihak yang bisa memberikan sanksi terhadap Israel atas pelanggaran ini.